Cakrawalaasia.news, LABUHANBATU – Proyek pembangunan delapan unit titi baru bertulang yang dikerjakan CV Rudicky di areal PTPN IV Regional II Kebun Ajamu 3 Panai Jaya, Kecamatan Panai Tengah, Kabupaten Labuhanbatu, menuai sorotan.
Pasalnya, konstruksi bangunan yang menelan anggaran ratusan juta rupiah itu diduga dibangun tanpa menggunakan cerucuk maupun pondasi keras sebagai penyangga utama.
Pantauan wartawan di lokasi menunjukkan, balok beton bagian bawah yang berfungsi sebagai bantalan utama titi tampak diletakkan di area bahu parit yang didominasi tanah lembek dan material organik atau yang biasa dikenal masyarakat sebagai “tanah daun”. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kekuatan dan daya tahan konstruksi dalam jangka panjang.
Dari informasi yang dihimpun, setiap titik pembangunan memiliki nilai anggaran sekitar Rp65 juta. Dengan total delapan titik, nilai proyek diperkirakan mencapai lebih dari Rp520 juta.
Kerani Teknik Kebun Panai Jaya, Dedi, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa setiap titik menggunakan delapan batang balok beton bertulang dengan ukuran cukup besar.
“Bangunannya ada delapan titik bang, masing-masing titik anggarannya lebih kurang Rp65 juta. Lebarnya empat meter dan panjangnya tujuh meter,” ujar Dedi.
Ia juga menjelaskan, bahwa dalam rancangan pekerjaan turut melibatkan alat berat berupa ekskavator.
Namun demikian, Dedi mengaku sempat mengingatkan pelaksana proyek terkait pentingnya pembersihan parit sebelum pekerjaan konstruksi dilakukan.

“Bagian bawah titi wajib dibersihkan terlebih dahulu atau cuci parit supaya saluran air mengalir. Kemarin sudah saya bilang sama pelaksananya, malah mereka menjawab nanti setelah selesai baru dibersihkan secara manual,” katanya.
Pernyataan tersebut semakin menambah tanda tanya mengenai metode pelaksanaan proyek di lapangan. Sebab, dalam pekerjaan konstruksi pada area rawa atau tanah lunak, proses pembersihan dasar parit dan penguatan pondasi umumnya menjadi bagian penting guna mencegah terjadinya penurunan struktur (settlement) yang dapat mengurangi umur bangunan.
Sejumlah pekerja yang berada di sekitar lokasi juga membenarkan bahwa balok-balok beton diletakkan langsung pada area tanah yang relatif lunak. Jika benar tidak menggunakan cerucuk maupun sistem pondasi pendukung lainnya, maka kondisi tersebut berpotensi menimbulkan penurunan struktur ketika menerima beban operasional dalam jangka waktu tertentu.
Ironisnya, proyek yang bersumber dari anggaran perusahaan perkebunan negara itu justru terkesan mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam pembangunan infrastruktur. Padahal, keberadaan titi bertulang memiliki fungsi vital sebagai akses transportasi operasional kebun yang setiap harinya dilintasi kendaraan pengangkut hasil panen.
Publik kini menunggu penjelasan resmi dari pihak CV Rudicky selaku pelaksana pekerjaan maupun manajemen PTPN IV Regional II terkait spesifikasi teknis pembangunan tersebut. Apakah konstruksi yang dibangun telah sesuai gambar kerja (bestek), Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta standar teknis yang berlaku, atau justru terdapat pengurangan item pekerjaan yang dapat mempengaruhi kualitas bangunan.
Apabila benar ditemukan ketidaksesuaian antara pelaksanaan di lapangan dengan spesifikasi yang direncanakan, maka pihak terkait perlu melakukan evaluasi menyeluruh sebelum bangunan diserahterimakan. Mengingat proyek bernilai ratusan juta rupiah tersebut pada akhirnya akan menjadi aset perusahaan yang digunakan dalam jangka panjang.
Wartawan media ini, sampai laporan ini dilangsir ke Redaksi, masih berupaya meminta konfirmasi resmi dari pihak CV Rudicky dan manajemen PTPN IV Regional II Kebun Ajamu untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut terkait dugaan tersebut. (*)











