Ragam  

Kementan Tegaskan Peran Sistem Veteriner dalam Menjaga Ketahanan Pangan

Foto : Seminar Nasional Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang digelar pada Rabu (22/4/2026), (sumber : Humas Kementan-RI).

Cakrawalaasia.news, YOGYAKARTA – Upaya mewujudkan stabilisasi dan kedaulatan pangan nasional terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.

Hal ini mengemuka dalam Seminar Nasional Dies Natalis Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang digelar pada Rabu (22/4/2026), dengan mengangkat topik “Stabilisasi dan Kedaulatan Pangan Nasional 2026–2027: Kebijakan Impor dan Penguatan Resiliensi Industri Perunggasan”.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Wirata, menekankan pentingnya penguatan sistem veteriner nasional sebagai fondasi ketahanan pangan.

“Penguatan sistem veteriner menjadi kunci dalam mendukung ketahanan pangan dan program makan bergizi gratis menuju Indonesia Emas 2045,” ungkapnya menyoroti peran strategis kesehatan hewan dalam mendukung agenda nasional.

Ia menjelaskan bahwa komoditas unggas seperti ayam dan telur saat ini menjadi sektor yang paling siap dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Menurutnya, produksi unggas telah mengalami surplus. Ia juga menekankan bahwa pemerintah terus melakukan langkah konkret untuk menjaga kualitas produk peternakan.

“Upaya penguatan terus dilakukan melalui pengembangan ekosistem hilirisasi ayam terintegrasi meliputi: farm GPS, PS, pabrik pakan, RPHU, cold storage dan unit pengolahan di wilayah provinsi yang defisit daging dan telur ayam ras dengan melibatkan peternak rakyat dan swasta, serta pengembangan kompartemen bebas penyakit, serta jaminan keamanan pangan dengan prinsip ASUH,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Michael Haryadi Wibowo, mengingatkan adanya ancaman penyakit unggas yang berpotensi mengganggu stabilitas produksi nasional.

“Penyakit seperti Newcastle Disease dan Avian Influenza masih menjadi ancaman karena virusnya terus bermutasi dan menghasilkan varian baru,” katanya menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dinamika penyakit.

Ia menambahkan bahwa faktor lain seperti resistensi antimikroba, multiinfeksi, hingga lemahnya penerapan biosekuriti di tingkat peternakan turut memperparah kondisi. Menurutnya, biosekuriti harus diterapkan secara konsisten, tidak hanya sebagai konsep tetapi sebagai praktik nyata di lapangan.

Pandangan dari sisi industri disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utama, yang menyoroti tantangan besar dalam sektor pakan.

“Sekitar 70 hingga 75 persen biaya produksi unggas berasal dari pakan, sehingga efisiensi formulasi menjadi sangat krusial,” ungkapnya menekankan pentingnya efisiensi dalam menjaga daya saing industri.

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci dalam memperkuat resiliensi sektor perunggasan. Dengan langkah strategis yang tepat, diharapkan Indonesia mampu menjaga stabilitas pangan sekaligus mengurangi ketergantungan impor di tengah tantangan global yang semakin kompleks. (*)

Penulis: Humas Ditjen PKH Kementan-RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *