BOGOR, Cakrawalaasia.news, – Kementerian Pertanian tidak main-main memperkuat laboratorium veteriner. Tujuannya jelas, bikin vaksin lebih cepat, mutu obat hewan lebih terjaga, dan penyakit strategis bisa dikendalikan.
Hal tersebut merupakan bagian dari strategi besar membangun sistem kesehatan hewan yang modern, mandiri, dan jadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Salah satu kuncinya ada di teknologi kultur sel. Teknologi ini sekarang jadi “senjata utama” laboratorium untuk diagnosis penyakit, riset, uji mutu, sampai bikin vaksin. Bagi Kementan, ini bukan sekadar ikut tren. Ini investasi supaya industri obat hewan Indonesia bisa bersaing di level global.
Kepala BBPMSOH Kementan, Hasan Abdullah Sanyata, menyebut perkembangan industri obat hewan dalam negeri sangat positif.
“Produk obat hewan Indonesia sudah diekspor ke lebih dari 90 negara. Devisa yang dihasilkan tembus triliunan rupiah. Produknya juga dipakai di seluruh sektor peternakan di Indonesia,” kata Hasan di Bogor, Selasa 14/7/2026.
Tapi pertumbuhan harus diimbangi pengawasan. Menurutnya, tugas utama laboratorium adalah memastikan setiap obat yang beredar aman, bermutu, dan berkhasiat.
“Kami melindungi pengusaha dan peternak. Kalau ada produk belum lolos uji, bukan mempersulit. Justru supaya yang beredar benar-benar aman dan bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Arus produk baru deras. Hasan menyebut BBPMSOH menerima sekitar 50 obat hewan baru setiap dua minggu. Banyak di antaranya pakai bahan atau metode yang belum pernah diuji sebelumnya.
“Ini tantangan. Kami harus terus berinovasi di metode pengujian agar sesuai perkembangan ilmu dan regulasi,” jelasnya.
Karena itu, Kementan mendorong penuh pemanfaatan kultur sel sebagai fondasi laboratorium veteriner modern. Dengan teknologi ini, proses riset, diagnosis, uji keamanan, hingga pengembangan vaksin bisa lebih akurat dan efisien.
“Di tengah ancaman penyakit hewan menular yang bisa rugi besar secara ekonomi, kultur sel jadi kebutuhan penting. Tapi harus didukung SDM kompeten, lab dengan standar biosekuriti, dan sistem pengujian yang tervalidasi ilmiah,” ujar Hasan.
Pandangan itu diamini Rahajeng Setiawati, Medik Veteriner Madya Kementan. Ia menyebut kultur sel adalah media utama untuk isolasi dan identifikasi virus, serta penopang produksi vaksin.
“Kultur sel bikin penelitian lebih akurat, efisien, dan berkelanjutan,” kata Rahajeng.
Keberhasilannya katanya bergantung 2 hal: Good Cell Culture Practice dan kualitas SDM. “Karena itu pengembangan kompetensi SDM dan inovasi berkelanjutan wajib jalan terus. Ini penting untuk memperkuat kesehatan hewan nasional dan mendukung pendekatan One Health,” pungkasnya.
Bagi Kementan, penguatan lab veteriner adalah investasi jangka panjang. Dengan teknologi yang terus dimutakhirkan, Indonesia ditargetkan bisa mandiri dalam produksi vaksin dan obat hewan, meningkatkan daya saing industri, serta menjaga kesehatan hewan sebagai fondasi ketahanan pangan.
Langkah ini sejalan dengan visi besar: Indonesia Emas 2045. (*)











