Kementan Jadi Tuan Rumah Indo Livestock 2026, Tonggak Baru Diplomasi Ekonomi Peternakan Indonesia

Foto : Press Reception Indo Livestock 2026 Expo & Forum yang berlangsung di Jakarta, Rabu (10/6/2026), (sumber : Ditjen PKH Kementan-RI

Cakrawalaasia.news, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) resmi menjadi tuan rumah ajang pameran dan forum peternakan terbesar di Asia Tenggara untuk pertama kalinya sejak digelar pada tahun 2002.

Momentum ini menjadi penanda penting transformasi subsektor peternakan nasional yang kini tidak hanya berperan sebagai pasar, tetapi juga semakin diperhitungkan sebagai pusat investasi, inovasi, dan diplomasi ekonomi peternakan di kawasan.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Press Reception Indo Livestock 2026 Expo & Forum yang berlangsung di Jakarta, Rabu (10/6/2026). Pemerintah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia siap tampil lebih percaya diri sebagai pemain utama industri peternakan global, seiring berbagai capaian strategis yang berhasil diraih dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan bahwa Indo Livestock telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai pameran industri. Menurutnya, forum ini kini telah menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.

“Indo Livestock bukan sekadar pameran, ini adalah instrumen diplomasi ekonomi peternakan Indonesia di hadapan dunia. Tahun ini adalah pertama kalinya dalam 24 tahun sejarah Indo Livestock, Kementerian Pertanian secara resmi menjadi tuan rumah. Ini adalah momentum yang tidak boleh kita lewatkan,” ujar Agung.

Indo Livestock pertama kali diinisiasi oleh PT Napindo Media Ashatama di Bali pada tahun 2002. Dari sebuah pameran berskala kecil, kegiatan ini berkembang menjadi salah satu pameran agribisnis paling berpengaruh di Asia Tenggara dan telah berlangsung selama 24 tahun.

Agung menjelaskan, keputusan Kementan menjadi tuan rumah tidak terlepas dari berbagai capaian strategis subsektor peternakan dan pertanian nasional. Selain keberhasilan menjaga ketahanan pangan, Indonesia juga telah mencapai swasembada unggas dan telur, sementara investasi di sektor sapi perah terus menunjukkan tren peningkatan.

Karena itu, Indo Livestock 2026 dirancang sebagai platform konsolidasi nasional yang mempertemukan seluruh pelaku ekosistem peternakan, mulai dari peternak, koperasi, industri, BUMN, akademisi, investor, hingga pemerintah dalam satu forum strategis bertaraf internasional.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementan akan menghadirkan Paviliun Kementerian Pertanian yang dilengkapi dengan Export Lounge dan Consultation Hub. Fasilitas tersebut akan menyediakan layanan konsultasi investasi, ekspor, perizinan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga peluang kemitraan usaha dalam satu lokasi terpadu.

Melalui Indo Livestock 2026, Kementan menargetkan lahirnya komitmen investasi baru bernilai triliunan rupiah, terbukanya akses pasar ekspor ke lebih dari 10 negara, meningkatnya pemahaman terhadap kebijakan wajib serap susu lokal, serta semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai destinasi investasi peternakan global.

“Kami optimistis Indo Livestock 2026 akan menjadi tonggak penting bagi kemajuan peternakan Indonesia. Mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa peternakan Indonesia mampu tumbuh, mampu bersaing, dan mampu menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi nasional,” tegas Agung.

Sementara itu, Project Director PT Napindo Media Ashatama, Lisa Rusli, menjelaskan pameran akan berlangsung pada 16–18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, dengan total area pameran mencapai 22.000 meter persegi. Penyelenggaraan tahun ini mendapat respons yang sangat positif dari pelaku industri global.

Seluruh target peserta pameran telah terpenuhi dengan total 600 peserta dari 30 negara. Tercatat tujuh paviliun negara akan hadir secara resmi, yaitu China, kawasan Eropa, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Vietnam, dan Indonesia.

“Alhamdulillah, hingga saat ini target 600 peserta pameran telah terpenuhi. Kami optimistis target 20.000 pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan dapat tercapai, bahkan melampaui capaian hampir 19.000 pengunjung dari 52 negara pada penyelenggaraan tahun 2024,” kata Lisa.

Dukungan juga datang dari kalangan profesi. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Muhammad Munawaroh, menilai Indo Livestock memiliki peran yang semakin strategis di tengah meningkatnya tantangan global, mulai dari ancaman penyakit hewan lintas batas, resistensi antimikroba, perubahan iklim, hingga isu keamanan pangan.

“Kami memandang bahwa Indo Livestock merupakan salah satu wadah strategis yang mempertemukan pemerintah, asosiasi, praktisi, organisasi profesi, industri, serta media dalam bersama-sama memperkuat subsektor peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia,” ujarnya.

Daya tarik lain yang akan mewarnai penyelenggaraan tahun ini adalah kehadiran Indo Livestock Grand Championship (ILGC). Sekretaris Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Nuryanto, menyebut ajang tersebut sebagai terobosan baru yang belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah pameran peternakan nasional.

Untuk pertama kalinya, kontes dan seni ketangkasan domba Garut yang biasanya digelar di ruang terbuka akan dipindahkan ke dalam ruangan dan dikemas dengan sentuhan budaya lokal melalui pertunjukan pencak silat serta musik tradisional Sunda.

“Indo Livestock tahun ini betul-betul menghadirkan sesuatu yang berbeda, bukan hanya gambar, mesin, dan forum diskusi, tetapi ternaknya secara langsung hadir di sana. HPDKI akan membawa kurang lebih 600 ekor ternak ke NICE PIK 2 Tangerang selama 16–18 Juni 2026,” ujar Nuryanto.

Melalui penyelenggaraan Indo Livestock 2026, Kementerian Pertanian mengajak seluruh pelaku usaha, investor, akademisi, organisasi profesi, peternak muda, hingga masyarakat umum untuk hadir dan berpartisipasi aktif.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi, memperluas peluang investasi dan perdagangan, serta mempercepat transformasi subsektor peternakan Indonesia menuju industri yang modern, berdaya saing global, dan berkelanjutan. (*)

Penulis: Humas Ditjen PKH Kementan-RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *