Cakrawalaasia.news, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat koordinasi dengan pelaku industri peternakan guna menjaga keberlanjutan usaha peternak nasional yang saat ini masih menghadapi tekanan akibat fluktuasi harga ayam hidup (livebird) dan telur ayam ras di tingkat peternak.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan koordinasi yang digelar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan bersama Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Pelaku Usaha dan Importir Bahan Pakan di Kantor Ditjen PKH, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Direktur Pakan Ditjen PKH, Tri Melasari, meminta seluruh pelaku usaha untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap kebijakan usaha masing-masing dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan keberlanjutan subsektor peternakan nasional.
Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri pakan dan usaha peternak agar stabilitas industri perunggasan nasional tetap terjaga serta mampu memperkuat daya saing produk peternakan dalam negeri.
“Kami mengajak seluruh pelaku usaha untuk bersama-sama menjaga stabilitas dan kelangsungan usaha peternakan dengan menahan kenaikan harga pakan, mengingat pakan merupakan komponen terbesar di dalam struktur biaya produksi yang langsung mempengaruhi HPP peternakan, melakukan efisiensi dalam proses produksi sehingga dapat menekan harga pakan dan menguatkan bagian Reseach and Development pada masing-masing feedmill untuk dapat memanfaatkan bahan pakan alternatif subtitusi impor yang lebih murah dan berdaya saing”ujar Tri Melasari.
Ia menambahkan bahwa pakan masih menjadi komponen penting dalam biaya produksi usaha unggas. Berdasarkan data BPS, kontribusi biaya pakan pada usaha ayam pedaging mencapai 67,82 persen, sedangkan pada usaha ayam petelur mencapai 74,66 persen.
“Karena itu, stabilitas harga pakan menjadi faktor penting dalam mendukung efisiensi usaha peternakan dan menjaga keberlanjutan produksi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, mengatakan seluruh pelaku industri memiliki komitmen yang sama untuk menjaga keberlanjutan ekosistem perunggasan nasional di tengah dinamika pasar dan perubahan harga bahan baku yang terjadi.
“Dengan adanya permintaan dari Ditjen PKH untuk menjaga stabilitas harga pakan, tentu masing-masing perusahaan akan memiliki strategi tersendiri agar dapat berkontribusi menjaga keberlanjutan usaha peternakan. Kami memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara keberlangsungan industri pakan dan keberlanjutan usaha peternak,” ujarnya.
Tevi menambahkan bahwa berbagai upaya yang dilakukan pemerintah bersama pelaku usaha diharapkan dapat mendukung terciptanya keseimbangan pasokan dan permintaan di subsektor perunggasan.
Menurut Tevi, koordinasi yang erat antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menghadapi dinamika pasar yang terjadi saat ini.
“Situasi industri saat ini memang cukup dinamis dan berbeda di setiap perusahaan. Namun kami mendukung langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas dan berharap harga produk peternak dapat kembali membaik sehingga usaha peternakan tetap berjalan sehat,” tuturnya.
Dari sisi rantai pasok, pelaku usaha turut memberikan perspektif terkait upaya menjaga kelancaran distribusi dan penyerapan produk peternak di tengah dinamika industri perunggasan nasional.
“Kami melakukan berbagai upaya, mulai dari penyerapan produk peternak hingga distribusi melalui fasilitas cold chain yang kami miliki. Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen kami untuk mendukung kelancaran rantai pasok dan menjaga keseimbangan pasokan di pasar,” ujar pelaku usaha.
Kementerian Pertanian menegaskan akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas industri perunggasan nasional. Langkah tersebut dilakukan melalui pemantauan perkembangan harga, kondisi pasokan bahan baku pakan, serta situasi usaha peternakan di lapangan agar keberlanjutan produksi unggas nasional tetap terjaga. (*)











