SINGAPURA, Cakrawalaasia.news – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, DJKI Kementerian Hukum, membawa 9 produk Indikasi Geografis, IG, unggulan Indonesia ke panggung internasional.
Produk tersebut dipamerkan dalam ajang MASA A Movement Across Time` di Takashimaya, Singapura, pada 2–5 Juli 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi DJKI untuk memperluas akses pasar dan menaikkan nilai jual produk khas daerah di pasar global.
Sembilan produk IG yang dibawa merepresentasikan kekayaan komunal dari berbagai daerah. Daftarnya meliputi:`
1. Batik Tulis Merawit Cirebon
2. Batik Tulis Waleran Cirebon
3. Batik Tulis Complongan Indramayu
4. Batik Tulis Nitik Yogyakarta
5. Lukisan Kamasan Bali
6. Teh Java Preanger
7. Lada Putih Muntok
8. Kopi Arabika Bantaeng
9. Kopi Arabika Gayo
Seluruh produk tersebut memiliki karakteristik khas yang melekat pada asal geografisnya dan telah mendapat pelindungan hukum IG.
Ketua Tim Kerja Diseminasi dan Promosi DJKI, Endar Tri Ariningsih, menyebut Singapura dipilih karena posisinya sebagai pusat perdagangan dan wisata di Asia Tenggara.
“Partisipasi ini adalah strategi kami mengenalkan produk indikasi geografis langsung kepada konsumen global. Kami ingin publik internasional tidak hanya membeli produknya, tetapi juga menghargai nilai sejarah, budaya, dan keunikan geografis yang tidak bisa ditiru oleh daerah lain,” ujar Endar, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurut DJKI, promosi internasional adalah cara untuk meningkatkan daya saing produk IG Indonesia sekaligus menumbuhkan apresiasi dunia terhadap nilai budaya di balik setiap produk.
Senada, Ketua Tim Kerja Pemanfaatan, Utilisasi, dan Pengawasan IG DJKI, Irma Mariana, menegaskan pelindungan hukum harus berujung pada manfaat ekonomi bagi masyarakat daerah.
“Bagi DJKI, legalitas perlindungan hukum bukanlah akhir, melainkan awal perjuangan. Setelah produk daerah terdaftar dan dilindungi, tugas besar kami adalah mempercepat komersialisasinya dan membuka akses pasar dunia,” kata Irma.
Ia berharap nilai ekonomi dari ekspor dan penjualan di Singapura dapat langsung dirasakan oleh pengrajin dan petani di daerah asal produk.
Wamenekraf : Ini Soal Identitas Bangsa
Pembukaan pameran dihadiri Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar. Ia menyampaikan setiap produk yang tampil membawa identitas bangsa.
“Pameran ini adalah tentang hati, kecintaan kita pada alam, budaya, dan sesama manusia. Pengunjung tidak hanya melihat sisi kreatif dan artistik Indonesia, tetapi juga cerita dan elemen budaya mendalam yang melekat pada setiap produk,” ujar Irene.
Melalui MASA 2026, DJKI terus mendorong tiga pilar utama yakni pelindungan, pemanfaatan, dan komersialisasi produk IG. Tujuannya untuk memperkuat daya saing produk lokal dan meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha di daerah. (*)











