BATU — Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan menambah armada operasi udara guna memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Jawa Timur. Hal ini disampaikan Kepala BNPB, Letjen TNI Kristomei Sianturi saat menghadiri rapat koordinasi penanganan Karhutla di Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Jawa Timur, Jumat, (23/10).
Langkah ini diambil guna mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di sejumlah titik pegunungan di Jawa Timur, khususnya kawasan Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Butak, hingga Ijen.
Dalam Rakor yang dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Tandyo Budi Revita tersebut, Kepala BNPB menjelaskan, penambahan satu helikopter water bombing dari Kalimantan Selatan akan dikirim menuju Malang. Selain itu, satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Kalimantan Barat juga dikerahkan untuk memaksimalkan potensi guna di wilayah Jawa Timur.
“Saya telah menyampaikan kepada Direktur Pengelolaan Operasi untuk menambah satu helikopter dari Kalsel ke Malang, terutama untuk water bombing, dan satu lagi pesawat OMC dari Kalbar untuk mendukung operasi modifikasi cuaca yang ada di Jawa Timur. Harapannya dengan tambahan alutsista ini, satgas bisa dengan cepat dan kebakaran pun tidak membara atau meluas,” ujar Kristomei.
462 Water Bombing dan Data 11.449 Ha Terbakar
Penambahan armada dari pusat ini melengkapi berbagai upaya darat dan udara yang sebelumnya telah digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pemprov Jatim mencatat sebanyak 462 kali pesawat water bombing telah diterbangkan, di samping penggunaan teknologi drone water spray berkapasitas 100 liter untuk menjangkau areal tebing curam yang sulit diakses tim darat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, karhutla selama masa siaga darurat ini telah melanda 26 kabupaten/kota dengan total 184 kejadian. Luas lahan terbakar menembus 11.449 hektar, di mana 77,05 persen di antaranya merupakan kawasan hutan konservasi. Kejadian ini juga menelan korban jiwa, yakni lima orang petugas dan relawan pemadam kebakaran yang gugur saat bertugas.
Dugaan Man-Made Disaster dan Antisipasi Banjir
Selain faktor cuaca ekstrem, ditemukannya titik api yang muncul secara bersamaan di beberapa gunung mengindikasikan adanya unsur kesengajaan atau kelalaian manusia (man-made disaster). Oleh karena itu, aparat penegak hukum bersama satgas gabungan TNI, Polri, dan pemda akan memperketat pengawasan dan penegakan hukum guna memberikan efek jera.
Sebagai langkah lanjutan menjelang pergeseran musim menuju penghujan pada pertengahan November, satgas gabungan juga disiagakan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan seperti banjir bandang dan tanah longsor. Kepala BNPB juga menginstruksikan petugas untuk membersihkan sisa material serta kayu terbakar di sepanjang aliran sungai sekitar kawasan pegunungan agar tidak menyumbat arus air saat curah hujan meningkat, yang dapat meningkatkan potensi banjir dan tanah longsor.
BNPB juga akan menginventarisasi kebutuhan tambahan dari pemerintah daerah dan mendukung penanganan sesuai kebutuhan yang dilaporkan.
Sumber : Humas BNPB











