Cakrawalaasia.news, LAMPUNG – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah Provinsi Lampung memperkuat pengawasan kesehatan hewan menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya lalu lintas ternak sekaligus menjamin keamanan produk hewan yang beredar di masyarakat.
Lampung memiliki posisi strategis sebagai jalur utama distribusi ternak antara Sumatera dan Jawa. Menjelang Idul Adha, pergerakan hewan dipastikan meningkat tajam, sehingga pengawasan di lapangan perlu diperketat.
Setiap pergerakan ternak dan produk hewan wajib dilengkapi sertifikat veteriner sebagai bukti kesehatan. Selain itu, kewaspadaan terhadap penyakit hewan menular dan potensi cemaran mikroba juga harus ditingkatkan demi melindungi peternak dan konsumen.
Kementan melalui Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, mengingatkan bahwa ancaman penyakit hewan masih menjadi perhatian serius, termasuk potensi masuknya penyakit baru.
“Kita tidak boleh lengah. Saat ini terdapat potensi masuknya penyakit seperti PMK serotipe SAT1 dan PPR yang sudah ada di beberapa negara Asia. Walaupun belum ditemukan di Indonesia, kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama melalui pengawasan lalu lintas ternak dan pelaporan dini dari lapangan sebagai bagian dari early warning system,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Kamis (16/4/2026).
Ia juga menekankan pentingnya peran aktif peternak dalam program vaksinasi dan pelaporan kasus sebagai bagian dari upaya pencegahan.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Anwar Bahri, menegaskan bahwa pengawasan tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara dinas, karantina, laboratorium, tenaga medis veteriner, hingga pelaku usaha. Dengan sinergi ini, kita optimis pengawasan akan lebih efektif, terutama menjelang Idul Adha yang mobilitas ternaknya sangat tinggi,” jelasnya.
Dari sisi teknis, perhatian juga diarahkan pada peningkatan vaksinasi PMK serta pengawasan jalur masuk ilegal, khususnya di wilayah pesisir timur Sumatera.
Data menunjukkan tren pemotongan ternak di Lampung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada periode 2024–2025 saja, pemotongan sapi naik 10,1 persen dan kambing melonjak hingga 24,9 persen. Kenaikan ini sejalan dengan tingginya kebutuhan masyarakat, terutama saat hari besar keagamaan.
Dari kalangan akademisi dan pelaku usaha, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Lampung menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendorong pertumbuhan subsektor peternakan. Namun, mereka mengingatkan pentingnya pengawasan agar tidak terjadi pemotongan betina produktif. Sementara Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Lampung menyatakan kesiapan mendukung pemeriksaan hewan sebelum dan sesudah pemotongan melalui penugasan dokter hewan di berbagai wilayah.
Seluruh pihak diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan sinergi dalam menjaga kesehatan hewan serta memastikan produk hewan yang beredar tetap aman dikonsumsi. Selain itu, langkah ini juga menjadi bagian penting dalam mencegah masuk dan menyebarnya penyakit hewan di wilayah Lampung. (*)











