DJKI Perkuat Kapasitas Substantif Paten Inventor Universitas Brawijaya

Foto : Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI menyelenggarakan Workshop Penyelesaian Substantif Paten pada 18-19 Mei 2026 di Universitas Brawijaya atau UB Malang, (sumber : DJKI Kemenku-RI).

Cakrawalaasia.news, MALANG – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual atau DJKI menyelenggarakan Workshop Penyelesaian Substantif Paten pada 18-19 Mei 2026 di Universitas Brawijaya atau UB Malang.

Kegiatan ini dihadiri oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB serta para inventor dari berbagai fakultas, mulai dari rumpun sains dan teknologi hingga sosial humaniora.

Workshop ini menjadi wadah pendampingan langsung bagi inventor dalam proses penyelesaian substantif paten, sekaligus memberikan bimbingan teknis drafting paten agar peserta mampu menyusun dokumen deskripsi paten secara tepat dan sesuai ketentuan.

Melalui kegiatan ini, para inventor tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai aspek administratif dan teknis, tetapi juga diarahkan untuk mampu menerjemahkan hasil penelitian menjadi klaim invensi yang memiliki nilai pelindungan dan potensi komersialisasi.

Dalam pelaksanaannya, peserta didampingi untuk memahami struktur dokumen paten, teknik penyusunan klaim, hingga strategi memperkuat substansi invensi agar dapat memenuhi unsur kebaruan, langkah inventif, dan dapat diterapkan dalam industri. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas permohonan paten yang diajukan oleh sivitas akademika UB.

Para inventor yang hadir menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menilai workshop ini sangat membantu dalam memahami teknis penyusunan dokumen deskripsi paten, khususnya dalam mengimplementasikan hasil penelitian menjadi metode klaim yang lebih terstruktur.

Selain itu, kegiatan ini juga dinilai mampu meningkatkan literasi dan akurasi inventor dalam proses drafting paten sehingga lebih siap menghadapi tahapan pemeriksaan substantif.

Salah satu inventor peserta workshop, Pranata dari Program Doktor Ilmu Lingkungan UB, mengembangkan invensi di bidang pengelolaan perikanan karang. Penelitiannya berfokus pada metodologi sistem penentuan ambang batas (threshold) untuk mengukur bagaimana aktivitas manusia mempengaruhi ekologi perikanan.

Menurut Pranata, pendampingan yang diberikan dalam workshop membantu inventor memahami bagaimana hasil riset dapat dituangkan menjadi dokumen paten yang lebih aplikatif.

“Selama ini tantangan terbesar bukan hanya melakukan penelitian, tetapi bagaimana menuangkan substansi riset menjadi dokumen paten yang sesuai dan memiliki kekuatan klaim,” ungkap Pranata dalam wawancara di Gedung UB, Malang pada Senin, 18 Mei 2026.

Riset yang dikembangkan Pranata sendiri telah memasuki tahap pengumuman paten dan mulai diarahkan menuju implementasi yang lebih luas. Ia mengungkapkan bahwa tim penelitinya telah melakukan forum diskusi bersama pemerintah daerah guna mendorong pemanfaatan hasil riset dalam ranah kebijakan pengelolaan lingkungan dan perikanan.

Ke depan, hasil penelitian tersebut juga direncanakan untuk dikembangkan menjadi aplikasi berbasis komputer agar lebih mudah diterapkan dalam pengambilan keputusan.

Cerita serupa datang dari Diki, inventor dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya yang menekuni bidang andrologi. Dalam disertasinya, ia menemukan keterkaitan antara kesehatan usus, kesehatan otak, dan kesehatan testis. Berangkat dari temuan tersebut, Diki kemudian mengembangkan metode permainan edukatif yang ditujukan bagi masyarakat awam untuk memahami interaksi antar organ tubuh tersebut secara lebih sederhana dan interaktif.

 

Ia menilai workshop ini memberikan pemahaman praktis mengenai drafting paten yang sebelumnya cukup sulit dipahami oleh inventor. “Kegiatan ini membantu kami melihat bagaimana penelitian bisa diterjemahkan menjadi invensi yang lebih terstruktur dan memiliki potensi untuk dikembangkan ke industri,” ujar Diki.

 

Saat ini, invensi yang dikembangkan Diki telah memasuki tahap pengumuman paten dan mulai diarahkan menuju pengembangan produk. Ia mengungkapkan bahwa konsep permainan tersebut tengah diproduksi secara mandiri dalam format game edukatif, sekaligus dijajaki kerjasama dengan pihak ketiga yang difasilitasi melalui DIKST UB untuk pengembangan lebih lanjut.

Melalui workshop ini, DJKI terus mendorong penguatan ekosistem kekayaan intelektual di perguruan tinggi agar hasil riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi juga mampu memperoleh pelindungan paten dan berkembang menjadi inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan industri. (*)

Penulis: Humas Ditjen KI Kemenkum-RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *