Cakrawalaasia.news, Jakarta – Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri melakukan pertemuan bilateral dengan State Secretary of the Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (Bundesministerium für wirtschaftliche Zusammenarbeit und Entwicklung/BMZ),
Niels Annen, di Berlin, Jerman, pada Senin (15/9).
Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro menekankan, komitmen Indonesia mendorong berbagai upaya peningkatan ekspor UMKM Indonesia ke Jerman di samping mempercepat penyelesaian perundingan perjanjian ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA).
“Kemendag saat ini sedang fokus mendorong UMKM agar bisa ekspor. Hal ini mengingat kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia cukup besar, yakni sekitar 60 persen. Untuk itu, Kemendag memiliki program UMKM BISA (Berani Inovasi Siap Adaptasi) Ekspor dan diharapkan dapat di integrasikan dengan program yang dimiliki Pemerintah Jerman, salah satunya melalui forum Komite Ekonomi dan Investasi Bersama Jerman-Indonesia (JEIC), yang sekaligus dapat menjadi
wadah memperlancar fasilitasi perdagangan kedua negara,” ujar Wamendag Roro.
Salah satu komoditas yang didorong ekspornya yaitu kopi. Mengingat tingginya minat terhadap kopi di kawasan Eropa dan banyak pelaku UMKM di industri tersebut. “Diharapkan ekspor kopi Indonesia ke Jerman dapat ditingkatkan,” imbuh Wamendag Roro.
Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro juga menyampaikan arahan Presiden Prabowo pada kunjungan ke Brussel pada 13 Juli 2025 untuk menyepakati percepatan penandatanganan I-EU CEPA.
“Indonesia berkomitmen segera menyelesaikan I-EU CEPA sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini mengingat di tengah situasi geopolitik global yang fluktuatif saat ini, perjanjian
dagang dengan negara mitra diharapkan mampu meningkatkan nilai perdagangan kedua belah pihak, serta mengurangi ketergantungan terhadap suatu negara tertentu,” lanjut Wamendag Roro.
Adapun dari pihak State Secretary Annen menyampaikan beberapa fokus program pemerintah Jerman, antara lain terkait kebijakan EU deforetation regulation (EUDR) yang cukup berpengaruh pada beberapa komoditas Indonesia.
Annen menyampaikan, BMZ terbuka untuk berbagai kolaborasi dengan Pemerintah Indonesia untuk memudahkan komoditas terdampak EUDR agar dapat memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan. Pihak Jerman menyatakan akan aktif melakukan sosialisasi teknis implementasi EUDR melalui Import Promotion Desk (IPD).
Selain itu, Pemerintah Jerman juga memiliki program German Desk yang akan diluncurkan di Jakarta dalam waktu dekat. Program ini berfungsi menghubungkan pelaku usaha Indonesia dengan Jerman, serta memberikan
fasilitasi untuk mempermudah proses business to business.
Selanjutnya, BMZ juga menyampaikan, terkait perdagangan berkelanjutan. BMZ telah bekerja sama dengan Bappenas pada Forum on Sustainable Palm Oil serta berbagai riset mengenai perdagangan berkelanjutan.
Pemerintah Jerman juga terbuka untuk memiliki forum bilateral mengenai agenda deforestasi. Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro didampingi Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Berlin Fajar Wirawan Harijono serta Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag Ari Satria.
Sekilas Perdagangan Indonesia-Jerman
Pada 2024, total perdagangan Indonesia dan Jerman tercatat sebesar USD 6,2 miliar, dengan nilai ekspor sebanyak USD 2,4 miliar atau menurun 5,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara, impornya tercatat senilai USD 3,8 miliar atau menurun 20,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Jerman menempati peringkat ke -19 tujuan ekspor terbesar Indonesia dan
menjadi sumber impor ke -12 bagi Indonesia.
Adapun produk ekspor utama Indonesia ke Jerman yaitu mesin percetakan (USD 296,8 juta), tembaga (USD 162 juta), alas kaki berbahan kulit (USD 101,9 juta), kopi (USD 88,2 juta), dan alas
kaki berbahan tekstil (USD 72,3 juta).
Sedangkan, produk impor utama Indonesia dari Jerman yaitu produk otomotif (USD 301,5 juta), obat-obatan (USD 129,3 juta), sirkuit elektronik terpadu (USD 121,8 juta), mesin (USD 97,2 juta), dan produk kimia (USD 83,9 juta).
Jerman juga merupakan sumber investasi asing (FDI) terbesar ke-15 bagi Indonesia, dengan USD 343,3 juta yang tersebar di 3.235 proyek.**











