Cakrawalaasia.news, Tangerang – Produk-produk pertanian Indonesia, seperti kopi, teh, kakao, dan rempah lainnya, serta produk olahan kelapa memiliki potensi besar untuk masuk ke pasar Eropa, termasuk Jerman.
Kesempatan ini akan semakin terbuka nantinya setelah Indonesia dan Uni Eropa (UE) mengimplementasi Indonesia – European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Perjanjian ini memungkinkan lebih dari 90 persen produk Indonesia menikmati bea masuk nol persen ketika sudah berlaku.
Hal tersebut disampaikan Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg Faried Wirawan
Rachman dalam seminar bertajuk “Strategi dalam Memasuki Pasar Jerman dan Uni Eropa bagi Produk Pertanian Indonesia”.
Seminar diselenggarakan Kementerian Perdagangan melalui ITPC Hamburg dan
Kedutaan Besar RI di Berlin, serta berkolaborasi dengan Import Promotion Desk (IPD) Jerman. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Sabtu (18/10).
“Pelaku usaha perlu memanfaatkan peluang ini dengan memperhatikan peningkatan standar, kualitas, dan keberlanjutan produk pertanian yang menjadi persyaratan utama bagi produk yang masuk ke pasar UE,” ungkap Faried.
Menurut Faried, Kemendag menekankan pentingnya penguatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah agar produk Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar Eropa yang semakin spesifik.
Strategi seperti riset pasar, storytelling produk, sertifikasi, dan kepatuhan pada regulasi menjadi kunci keberhasilan ekspor jangka panjang.
Sementara itu, Duta Besar Indonesia di Jerman Fadjar Wirawan Haryo menyampaikan, Indonesia-EU CEPA memberikan keunggulan kompetitif bagi pelaku usaha Indonesia melalui di permudahnya akses pasar, diturunkannya tarif, dan di tingkatkannya daya saing produk Indonesia dari segi harga bila
dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
“Indonesia-EU CEPA bukan sekadar perjanjian tarif. Perjanjian ini adalah kesempatan bagi pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan kualitas, nilai tambah, dan keunikan produk agar dapat bersaing di pasar global. Dengan pemahaman tren konsumen dan kebutuhan ekspor, produk unggulan Indonesia bisa menembus pasar premium, segmen khusus, maupun etnik di Eropa,” ungkap Fadjar.
Ahli Pengadaan dan Analisis Pasar IPD Angie Martinez menyampaikan, tren konsumen Eropa kini sangat di pengaruhi kesadaran akan keberlanjutan (sustainability), kesejahteraan (well-being), dan preferensi produk alami organik.
“Konsumen eropa menuntut produk yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga
dapat dilacak asal-usulnya (traceable), ramah lingkungan, dan memenuhi standar etika,” ungkap Angie.
Pada periode Januari – Agustus 2025, ekspor pertanian dari Indonesia ke Jerman mencapai USD 184,21 juta. Ada peningkatan sebesar 124.95 persen dibanding Januari – Agustus 2024 yang sebesar USD 81,89 juta.
Pertumbuhan kinerja ini menunjukkan, bahwa produk pertanian Indonesia diterima di pasar Jerman dan berpotensi besar untuk berkembang di kawasan Eropa.
Salah satu peserta seminar, Sri Milani, pelaku usaha yang bergerak di bidang produk olahan kelapa, menyampaikan apresiasinya kepada ITPC Hamburg karena telah memfasilitasi pelaku usaha melalui seminar ini.
“Seminar ini sangat bermanfaat. Kami jadi memahami cara memasuki pasar Eropa,” ujar Sri.
Kementerian Perdagangan berkomitmen akan terus mendorong pelaku usaha Indonesia menembus pasar Eropa melalui penguatan kapasitas UMKM, fasilitasi sertifikasi, pendampingan ekspor, dan riset pasar agar produk Indonesia semakin kompetitif dan berkelanjutan dan sesuai dengan preferensi konsumen Eropa. **











