Cakrawalaasia.news, Maros – Peternak di Sulawesi Selatan kini semakin diuntungkan dengan hadirnya layanan inseminasi buatan yang lebih terjamin mutunya.
Melalui kolaborasi antara Balai Besar Veteriner (BBV) Maros dan UPT Pelayanan Inseminasi Buatan dan Produksi Semen (UPT-PIBPS) Pucak, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan sapi dan kerbau pejantan unggul di unit tersebut bebas dari penyakit serta memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Langkah ini menjadi bentuk nyata tanggung jawab negara dalam melindungi peternak dari risiko penyakit ternak dan kerugian ekonomi yang bisa terjadi akibat gagalnya reproduksi.
Pemeriksaan kesehatan hewan secara menyeluruh dilakukan langsung oleh tim teknis BBV Maros yang dipimpin oleh Efraim Fatra, mencakup pemeriksaan fisik, kondisi kandang, dan pengambilan sampel biologis.
“Pelayanan aktif ini menjadi langkah strategis untuk memastikan sapi dan kerbau pejantan unggul bebas dari penyakit, sekaligus mendukung standar kualitas produksi semen beku.
Dengan pemeriksaan langsung di lapangan, kami dapat memberikan rekomendasi teknis yang tepat dan objektif agar UPT-PIBPS Pucak mampu mempertahankan mutu produk dan kesehatan ternak secara berkelanjutan,” ujar Efraim Fatra, Tim Teknis BBV Maros.
Dalam kegiatan tersebut, tim memeriksa delapan ekor ternak pejantan – empat sapi Bali, satu sapi Simmental, satu sapi Limousin, dan dua kerbau Toraya – yang menjadi sumber bahan baku inseminasi buatan.
Seluruh sampel diperiksa di laboratorium BBV Maros menggunakan metode pengujian terstandar. Hasil uji laboratorium ini menjadi dasar penjaminan mutu semen beku yang nantinya digunakan peternak di berbagai daerah.
Dengan cara ini, peternak tidak hanya mendapatkan semen unggul, tetapi juga dijamin keamanannya dari penyakit menular, yang berarti tingkat keberhasilan kebuntingan meningkat, sementara risiko kerugian usaha dapat ditekan.
Pelaksana Tugas Kepala UPT-PIBPS Pucak, Adrianus Mario, menyampaikan bahwa kehadiran BBV Maros sangat membantu UPT dalam memenuhi syarat sertifikasi nasional.
“Pelayanan aktif dari BBV Maros sangat membantu kami, terutama dalam pemenuhan persyaratan SNI. Respons cepat dan pendampingan teknis yang diberikan menjadi nilai tambah bagi peningkatan kualitas layanan kami. Kami berharap kerja sama ini dapat terus berlanjut,” ujarnya.
Selain pemeriksaan lapangan, tim BBV Maros juga memberikan coaching teknis terkait manajemen kesehatan ternak dan biosekuriti. Pendampingan ini menjamin UPT dapat memproduksi semen beku dengan standar tinggi secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat kapasitas daerah dalam menjaga ketahanan peternakan.
Sebagai bagian dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan menegaskan bahwa layanan seperti ini merupakan implementasi konkret dari komitmen pemerintah melindungi peternak dan memperkuat sistem kesehatan hewan nasional.
Melalui pendekatan kolaboratif, Kementan memastikan setiap kebijakan dari pemenuhan standar, pengawasan mutu, hingga peningkatan kapasitas teknis berdampak langsung pada produktivitas dan kesejahteraan peternak.
Dengan penguatan layanan inseminasi buatan di UPT-PIBPS Pucak, peternak kini memiliki akses pada bibit unggul yang terjamin kesehatannya, proses reproduksi yang lebih efisien, dan hasil produksi yang bernilai ekonomi tinggi — bukti nyata hadirnya negara dalam melindungi dan menyejahterakan pelaku peternakan di Indonesia. (**)











